Saya dan Matematika [part 1]

Apa yang salah dengan matematika? sudah dua tahun lamanya saya menjadi mahasiswa ilmu matematika murni. Seperti mahasiswa kebanyakan, mengisi hari-hari dengan masuk kelas, memasang telinga mendengarkan materi dari dosen, aktif di lembaga kemahasiswaan, menghabiskan uang dengan jajan, fotokopi catatan teman, dan jalan-jalan. Terkadang terbersit dalam pikiran mengenai masa depan saya sebagai lulusan bachelor matematika. Apa yang akan saya lakukan setelah lulus kelak, pilihannya adalah bekerja, buka usaha, dan menikah. Bekerja adalah pilihan yang paling sering dipilih orang setelah lulus perkuliahan. Bekerja di tempat yang elit dan ternama adalah cita-cita sebagian mahasiswa yang baru lulus. Balik lagi ke topik utama tentang matematika. Matematika adalah jurusan yang ketika kamu ditanya ‘kuliah jurusan apa?’ lalu kamu jawab ‘Jurusan Matematika’ mereka akan balik berkata ‘wuihh, anak pinter tapi hati-hati loh kerjanya susah paling-paling di Bank’. That’s my hypothesis about a mathematician! Calm down, firstly it’s just hypothesis, we do not know that’s right or rightest or wrong. Yang jelas, bagi sebagian orang yang menyadari pendapat diatas, akan bereaksi sama seperti saya yakni membenarkan dan ada pula sebaliknya.

Keputusan yang telah kita ambil, tak baik bila hanya bisa kita sesali. Menjadi seseorang yang belajar menerima kenyataan, pandangan buruk banyak orang, atau bahkan cemoohan jelek terhadap matematika adalah sebuah hal yang luar biasa. Pastinya, disaat kita belajar menerima maka kita tahu kondisi nyata yang telah dan sedang terjadi, setelah itu kita akan mengambil sikap untuk kedepannya. Leave it or take it! Disini saya memilih untuk menjadi subjek yang berperan ‘take it ‘ karena saya yakin sekali pada Allah bahwa Ia telah menyiapkan hal yang jauh lebih baik dibanding saya harus meninggalkan kuliah matematika saya meskipun saya masih meraba-raba semua hikmah yang tengah Allah simpan untuk ini.

Orang lain boleh berkata apa saja mengenai matematika, orang-orang yang ada di dalamnya termasuk saya sebagai mahasiswa yang menekuninya. Yang jelas, saya bukanlah orang yang menyia-nyiakan karena saya tak terlalu suka atau minat. Cukup menjadi seseorang yang meniru konsep omnivora (pemakan segala), demi bertahan hidup dia akan bertindak sama terhadap hal yang ia suka atau tidak, tak ada diferensiasi didalamnya. Masa depan adalah hal misteri yang tidak diketahui oleh manusia, boleh jadi cerahnya masa depan akan kamu dapatkan dari gelapnya masa kuliah (dibaca : jurusan yang tak sesuai dengan keinginan). Berbaik sangkalah pada Allah, dosen, teman, dan pada matematika. Selamat kuliah!

Tarian Saman

Aku adalah orang disebelahmu

Saat itu, aku terlihat seperti kambing bodoh

Tak berani menatap rumput hijau

Apalagi memakannya, padahal aku menginginkannya

            Ternyata kamu adalah gadis 8 tahun lalu yang aku impikan

            Hari ini aku mencoba untuk menjadi pintar

            Berani melihatmu, berterus terang

            Memuntahkan semua perasaan yang kupunya

Jadilah perempuanku, Maheir

Jangan biarkan aku semakin bodoh

Aku adalah laki-laki tarian samanmu

     Yang tak ingin melihatmu

     Dan sekarang berani-berani nya mendekatimu

puisi romance saman almaheira cinta

The People Smile When No Body Smiling

Aku berjalan sendiri

Mendengar lirik-lirik angin

Daun-daun bergerak tak ingin menari

Tapi mereka bernyanyi

Penyair mengiringi sinema ini

Bak original soundtrack sempurna

            Aku berpikir tentangmu

            Tapi tidaklah lama

            Hanya sejenak,

            Lalu aku selipkan semua dalam doa

            Sampai akhirnya aku melepaskanmu

Tapi angin masih bermandikan lirik

     Daun tak mau mendiamkan serat wajahnya

     Hingga akhirnya aku

     Berjalan dan tersenyum

Dikala tak ada seorang pun tersenyum

puisi lirik cinta romance almaheira